For some many reasons, I wrote this using English.
***
No, It's not a song's title nor poetry.
It's about my really deep heart voice that want to scream so badly but couldn't do.
Today is the day ..., what I'm afraid of. Today is the day He went away.
It's all about my broken heart; also my sisters'
I just want to say, "I Can't stop thinking about you."
Hey you ..., I remembered you have your adaptation three days, you keep having some nightmares and bad dreams. I really remembered. That time you're still a baby, so, what would happened to you now? I know, I know you're no longer ours, but still, you ever be.
Hey you ..., do you regret, ever being with us? I'm so sorry, deeply sorry. Because I regret it now--Our memories and times.
If we come back to see you once again, could you've been mad? Could you ..., remember us?
You have gold hair and brown eyes. Whenever I saw your things, I keep remembering you. I keep remember you.
I ever heard ..., when we leave you, my world will still be okay. But for you, the world end there.
How can I ..., stop worrying you?
Can you sleep well? Do they treat you right? Because when we come to see you again, we hope for your happiness more than when we used to. We want the best for you, yet we're too afraid to hurt you. I knew we hurt you already, I'm so sorry.
I'm so deeply missing you.
Really, I swear.
If only we could turned back time, we shouldn't been hurt like this.
If only we're stronger to protect and keep you right.
I don't want you to hold the pain. We hope you forgetting us, and stop thinking about us. We hope for your happiness and longer life. We hope for all your best.
I will still missing your everything.
In another life, I hope we can together as real friend, not like this. I hope for your happiness.
Thanks for being our friend these times. I'm so sorry, deeply sorry.
If all my tears could make you back, I would dropped it all.
I'm so sorry, please forgive me. I'm wishing for your better life, I hope.
Please ..., forget us.
Please.
Just let us go. So you won't hurt like this.
I hope you're not lonely, cause when I found you've gone, I'm really lonely and It's killing me slowly. I'm really deeply love you as my friend. I'm really sorry.
We promise to see you next time, but there's no turning back as we used to.
Thank you for everything.
My dearest Reo
7 May 2016, Sat--23:38
P.s Let's stop crying for now on (:
-CH
C.H
Girl w/ unexpected imagination in her brain. She loves Fantasy and Science Fiction. Oh, Don't forget horror and MINOR romance. She wants to publishing books in future. She loves classic music and calm melody, she love cute things and nature views. She loves comic w/ shoujo genre. She loves drawing and making stories. Any Questions?
Sabtu, 07 Mei 2016
Minggu, 24 April 2016
Little Magacal Piya
Cerita ini bergenre Fantasy dengan sedikit bumbu minor romance yang telah dipublishkan secara umum di wattpad. Keadaan terakhir saat aku melihatnya adalah viewersnya sudah mencapai 201K, votesnya sudah mencapai 17.9K dan komentarnya mencapai 2.8K.
Cerita ini mengisahkan tentang fenomena di bumi yang 'menelan' manusia dan membuat mereka menghilang. Di setting cerita itu, banyak manusia yang menghilang tiba-tiba tanpa bisa diprediksikan kapan dan siapa. Cerita ini berpusat pada Tsuyirika Piyorin di Tokyo, Jepang. Gadis yang berumur tigabelas tahun ini harus bisa menelan kepahitan dan sisa-sisa hidupnya bersama dengan Ibu Tirinya yang memperlakukannya dengan tidak manusiawi. Ah, agak alay sih sebenarnya kata-kataku.
Langsung ke sinopsisnya saja, yang saya tulis di wattpad, yah.
Di baca yah kalau tertarik, search aku di wattpad atas nama username Prythalize.
Link Profile : https://www.wattpad.com/user/PrythaLize
Link Cerita : https://www.wattpad.com/story/41809141-little-magacal-piya
P/S: Diharuskan mendaftar terlebih dahulu :)
Salam, CH
Cerita ini mengisahkan tentang fenomena di bumi yang 'menelan' manusia dan membuat mereka menghilang. Di setting cerita itu, banyak manusia yang menghilang tiba-tiba tanpa bisa diprediksikan kapan dan siapa. Cerita ini berpusat pada Tsuyirika Piyorin di Tokyo, Jepang. Gadis yang berumur tigabelas tahun ini harus bisa menelan kepahitan dan sisa-sisa hidupnya bersama dengan Ibu Tirinya yang memperlakukannya dengan tidak manusiawi. Ah, agak alay sih sebenarnya kata-kataku.
Langsung ke sinopsisnya saja, yang saya tulis di wattpad, yah.
Baru saja, aku harus menghadapi fakta tentang perlakuan ibu tiriku yang semakin leluasa ketika ayahku tidak ada di rumah. Sekarang, aku harus menghadapi fakta baru dan meyakini bahwa aku berada di dunia lain dan menjadi seorang penyihir di dunia itu.
Baru saja aku bernafas lega karena sudah melepaskan hidupku sebagai manusia. Namun lagi-lagi aku dihadapi fakta baru bahwa ternyata aku adalah penyihir yang diincar oleh sebuah kelompok yang menjadi musuh penyihir di sana.
[Tsuyirika Piyorin (Piya)]
Di baca yah kalau tertarik, search aku di wattpad atas nama username Prythalize.
Link Profile : https://www.wattpad.com/user/PrythaLize
Link Cerita : https://www.wattpad.com/story/41809141-little-magacal-piya
P/S: Diharuskan mendaftar terlebih dahulu :)
Salam, CH
Sabtu, 23 April 2016
New Family Member (2)
Seminggu setelah kami memelihara Reo, Mama bilang
kalau ‘satu ruangan bau Reo semua’ dan bahkan sempat berdiskusi dengan Papa
untuk menaruh Reo di tempat lain saja. Ralat, ditempat kerja Papa yang
merupakan perusahaan ikan yang disana terdapat banyak anjing untuk menjaga
tempat itu dari pencuri darat maupun laut.
Selaku orangtua baru REO, kami berlima sama sekali
tidak mengizinkan. Scorpio yang sebenarnya takut dengan Reo pun bahkan membela,
meski dia menangis beberapa kali karena Reo sedang dalam masa ‘gatal pengen
gigit’.
Rumahnya yang terbuat dari kotak sepatu Papa sudah
tak terbentuk. Keset kaki biru yang pernah kureferensikan menjadi korbannya.
Oh, dan pakaian-pakaian yang tergantung dibesi tangga (yang rendah
sampai-sampai membuatnya bebas menggigit). Reo juga dengan polosnya sembarangan
membuang kebutuhannya itu, membuat tissue yang selalu penuh di rumah menjadi
habis. Ya, habis.
Saat itulah Mama mengungkapkan rasa tidak sukanya
terhadap Reo. Sebenarnya lebih tepatnya kita mengatakan rasa distrubing-nya,
karena Reo tidak pernah mengganggu Mama. Sedangkan Papa hanya menengok-nya saat
malam saja. Itupun kadang-kadang saja kalau Papa lewat di ruangan yang dekat
dengan tempat cuci baju itu.
Tapi aku tidak berbohong, Reo sangat lucu.
Karena itulah, saat orangtuaku membahas tentang
‘memelihara’ Reo di perusahaan Papa, kami selalu memasang hashtag di grup
keluarga kami.
#SaveReo
Kakakku kuliah sambil magang, pagi-pagi ke kantornya
jam delapan dan pulang ke rumah jam delapan atau sembilan (tanpa pulang rumah
terlebih dahulu). Itupun waktunya udah kepepet pakai banget. Jadwal malam
kuliah kadang bisa sampai jam sepuluh, waktunya paling sibuk diantara kami.
Sedangkan aku dan Pisces berangkat sekolah pukul
tujuh, pulang sekolah pukul tiga atau empat (kalau
pemantapan) lalu setelah itu
santai.
Nah, Papa sudah berulang kali mengingatkan jadwal
makan dan lain-lain Reo, dan Papa bilang kami nggak bakal bisa handle makan
pagi, siang, dan malamnya. Yah, memang sih. Tapi kami coba yakinin Papa, kalau
kami bisa ngatur. Scorpio pulang sekolah jam satu, yah, kami memberikan dia
kepercayaan untuk mengurus Reo siang-siang. Sisanya kami deh.
Papa hanya mengiyakan, meski aku tahu dalam hati
Papa menertawakan kesanggupan agak mustahil yang kami janjikan.
Scorpio itu..., sama kucing saja, dia takut banget.
Dia anak Mama yang PALING penakut.
Untunglah Mama sedikit pengertian meskipun ‘katanya’
dia berat hati melakukannya. Mama yang mengurus jadwal makan siangnya pada
akhirnya.
Pernah sekali, aku memergoki Mama sedang
bermain-main dengannya dan Reo meloncat antusias saking senangnya. Soalnya Mama
itu kalau udah ketemu Reo itu yah, Mama kayak kasih gertakan buat Reo dengan
memukul tangannya diudara seolah hendak memukulnya. Anehnya, Reo malah membalas
Mama dengan gerakan yang sama (menaikan salah satu kaki depannya dan
melambai-lambaikan di udara), membuatku dan Taurus yang kebetulan melihatnya
senang tak karuan.
Mamaku itu sedikit tsundere.
Jadi saat itu aku dan Pisces pergi ke rumah
family-ku yang rumahnya hanya selisih tiga rumah, setelah mendapat pesan dari
Mama lewat grup keluarga kami.
Mama: Sini ke rumah kuku (panggilan buat salah satu
family kami)
Me: Knapa, ma?
Mama: Ada poppia (Nama makanan yang aku tidak tahu
bagaimana mengartikannya ke bahasa Indonesia)
Pisces-lah yang lari dengan semangat empatlima menuruni
tangga setelah memberi Reo makan. Aku sampai terkaget-kaget.
Jadi setelah sampai di rumah Family kami, saat baru
sampai pintu, aku dengan jelas mendengar suara Mama dan Family-ku
berbincang-bincang.
“Tapi anjingnya pintar, lho. Dia BAB dan BAK sudah
di area luar, bukan keramik.”
Begitu kami masuk ke dalam, Mama menyuruh kami
mengambil piring dan memakan makanan yang tersedia diatas meja. Saat sedang
makan, Mama kembali berbincang-bincang.
“Itu bau anjingnya bikin seisi rumah bau semua.”
Aku menatap Mama dengan tatapan datar. Kata Pisces,
tatapanku itu terkesan seperti tengah mengatakan, ‘Ma. Mama kok gitu sih?’
Tapi sebenarnya, saat itu aku sedang berpikir, ini
termaksud nusuk dari belakang nggak sih?
Sebulan
setelah memelihara Reo, aku mendapat giliran untuk pulang ke kampung halamanku.
Aku ingat persis bagaimana saudari-saudariku mengolok-ngolokku dan
menakut-nakutiku dengan mengatakan, “Nanti pulang kamu udah nggak dikenal.” dan
semacamnya.
Sebenarnya, saat itu, bukan itu yang kutakutkan. Ya
memang, aku takut kangen dengan Reo saat disana nanti. Tapi hal yang paling
kutakutkan sebenarnya bukanlah itu.
“Nanti kalau aku pulang...,” Aku menunjuk kursi
merah yang tingginya kira-kira hampir tujuhpuluh centi. “Tinggi Reo segitu,
gimana?”
KRIK KRIK, para saudariku memasang tampang sengak
seperti tengah mencemoohku dalam tatapan itu.
‘Memangnya kau pergi berapa tahun, huh?’
***
Persediaan tulisan untuk kenangan ini telah habis dipublishkan di blog ini. Mungkin akan dibuat kembali lain kali. Untuk sedikit informasi, Reo masih disini bersama kami. Tapi tetap saja saya punya firasat Ayah bakal bawa Reo pergi suatu hari nanti. Karena banyak family kami yang minta-minta Reo.
Ah, kenangan.
Salam, CH
New Family Member
Aku masih ingat persis saat kakakku—Virgo dengan
antusiasnya menceritakan tentang rencana kami saat memelihara peliharaan baru
yang akan datang nanti. Tepatnya 19 Oktober lalu, anjing milik teman kakakku
telah melahirkan sebelas anak anjing keturunan setengah golden dan entah jenis
anjing jantan apa.
Teman kakakku menawarkan satu anak anjing dan
kakakku mengatakan bahwa dia ingin yang berwarna coklat. Setelah dikirim foto,
kami pun melihat sosok calon anjing baru yang akan menemani kami nanti.
Anjing kecil itu tiduran terlungkup dengan seekor
anjing kecil berwarna putih-hitam yang menurutku mirip dengan panda. Kata
kakakku, anjing hitam-putih itu akan diberikan kepada sepupuku—Alexson yang
juga ditawarkan oleh temannya.
Kami berdiskusi panjang lebar untuk pemberian nama
untuk anjing kecil itu. Adik keempatku—Taurus tidak menginginkan nama anjing
itu memiliki nama kejepang-jepangan, sebab kakakku, aku dan adik ketigaku—Pisces
adalah penyuka anime dan hal-hal yang berbau Jepang. Dan adik kelimaku—Scorpio
hanya menyetujui saran kami karena dia juga menyukai anime yang sering
ditayangkan pagi-pagi disalah satu stasiun TV swasta.
Akhirnya, diputuskanlah bahwa namanya adalah Reo
dari Oreo. Aku tidak mengerti, mengapa harus Oreo? Oreo seharusnya diberikan
kepada anjing hitam-putih itu, kan?
Menunggu sekitar dua minggu, akhirnya anjing kecil
itu berusia sebulan dan datang tepat sehari sebelum aku akan foto kelas untuk
Year book (karena aku sudah kelas tiga SMA).
First Impression-ku saat melihat REO adalah...,
“Kok muka-nya melas gini?”
Tidak ada kardus mie instan bekas, semuanya habis
dipakai untuk mengemas barang-barang kiriman ke luar kota, jadi kami
menggunakan kota sepatu milik Papa. Papa yang kebetulan saat itu sedang berada di
Pekan Baru, tidak tahu nasib kotak sepatunya.
Aku yang terus merengek-rengek mengatakan Reo
memiliki wajah yang memelas, benar-benar mendapat jawaban dari
saudari-saudariku. Padahal, biasanya omonganku selalu dikacangin dan dijadiin
angin lalu.
Aku sangat ingat bagaimana keadaan Reo saat pertama
kali dia melihat kami dan Alexson yang sedang menggendong anjing hitam-putih
yang bahkan belum diberi nama itu. Anjing hitam-putih itu tampak cuek dan
nyaman digendongan pemilik barunya, kami menyimpulkan mungkin karena dia
digendong oleh lelaki (FYI, anjing hitam-putih itu adalah anjing betina).
Sementara Reo..., gemetaran hebat dan tidak mau
berada di dekat-dekat kami berlima saudari yang menunggunya mendekati kami
dengan antusias. Nyaris setengah jam, ternyata dia hanya berminat mendekati
kakakku. Alexson pulang sekitar jam sebelas, yang mana halnya dia berada
dirumah kami sekitar dua jam tanpa sadar terus memperhatikan anjing barunya.
Kami membawa Reo ke loteng, saat itulah kami membuka
pintu kamar Mama. “Itu anjingnya?” Mama kami melihat dari dalam kamar saat kami
membuka pintunya dan memamerkan Reo dari luar pintu (kami tidak berani masuk,
sebab Mama dan Papa menentang kami memelihara Reo). “Lucu sekali, anjingnya.”
Tapi aku tidak bercanda, dia memang lucu meskipun
tiba-tiba kami berlima memekik histeris saat dia tiba-tiba saja (maaf) BAB di
depan pintu kamarku dan Pisces. Aku yang saat itu panik langsung menarik
pijakan kaki berwarna biru dengan buru-buru. Dan dia juga tak lupa meninggalkan
air seni-nya hampir disemua sudut ruangan.
Saat dia sudah tidur, dia akan terbangun kembali dan
menangis (menangis dalam artian lain), habis bermimpi buruk karena belum bisa beradaptasi dengan lingkungan
barunya. Karena itulah, bahkan sampai jam satu, kami sama sekali belum tidur.
Tapi rupanya kakakku sedikit pengertian, dia
mengingat bahwa besok pagi-pagi aku harus bangun dan sampai disekolah sebelum
jam enam. Aku segera kembali ke kamar dengan perasaan berbunga-bunga, karena
sedaritadi aku memang mengantuk. Kusetel alarm jam 04.30 dan tertidur lelap.
Pagi-paginya, alarm itu berbunyi, namun tanpa ragu
ku matikan dan kulanjutkan tidurku. Aku adalah tipical manusia yang membuat
lima alarm yang berselisih waktu lima menit, takut nyesal dan karena aku
nekannya suka nggak nyadar.
Pisces bahkan sempat membangunkanku dan mengomel,
tapi tak kupedulikan dan kulanjutkan kembali tidur yang enak itu. Sampai
akhirnya...,
“Kaing, kaing.”
Mataku terbuka secara otomatis, dan aku langsung
berjalan menuju pintu. Kudengar Pisces sempat berdecak tak pantas. Dia berbicara
dalam tidurnya, mungkin.
“Dibangunin alarm malah nggak bisa, dibangunin
anjing baru bisa, ckck.” Kira-kira seperti itu.
Aku bersiap-siap meski kerepotan harus mengurus Reo
di waktu bersamaan. Aku memanaskan susu, menaruhnya dipiring dan membiarkan Reo
meminumnya, mengajaknya keluar rumah meski aku tahu bahwa dia akan kedinginan,
dan mengajaknya bermain sampai aku lupa waktu.
Jadwal makan pagi sebelum pemotretan seharusnya
lebih cepat, tapi kulewatkan begitu saja.
Akhirnya aku terlambat.
***
Sengaja di post di Blog, agar kenangan tidak hilang selamanya dalam ingatan, agar semuanya tahu betapa antusiasnya kami berlima. Saya menulis kenangan ini tanggal 9 Februari 2016 pukul 00:35.
Nama kami dirahasiakan, meskipun kalian tahu namaku, haha.
Salam saya, C.H
Langganan:
Postingan (Atom)