Sabtu, 23 April 2016

New Family Member (2)



Seminggu setelah kami memelihara Reo, Mama bilang kalau ‘satu ruangan bau Reo semua’ dan bahkan sempat berdiskusi dengan Papa untuk menaruh Reo di tempat lain saja. Ralat, ditempat kerja Papa yang merupakan perusahaan ikan yang disana terdapat banyak anjing untuk menjaga tempat itu dari pencuri darat maupun laut. 

Selaku orangtua baru REO, kami berlima sama sekali tidak mengizinkan. Scorpio yang sebenarnya takut dengan Reo pun bahkan membela, meski dia menangis beberapa kali karena Reo sedang dalam masa ‘gatal pengen gigit’. 

Rumahnya yang terbuat dari kotak sepatu Papa sudah tak terbentuk. Keset kaki biru yang pernah kureferensikan menjadi korbannya. Oh, dan pakaian-pakaian yang tergantung dibesi tangga (yang rendah sampai-sampai membuatnya bebas menggigit). Reo juga dengan polosnya sembarangan membuang kebutuhannya itu, membuat tissue yang selalu penuh di rumah menjadi habis. Ya, habis

Saat itulah Mama mengungkapkan rasa tidak sukanya terhadap Reo. Sebenarnya lebih tepatnya kita mengatakan rasa distrubing-nya, karena Reo tidak pernah mengganggu Mama. Sedangkan Papa hanya menengok-nya saat malam saja. Itupun kadang-kadang saja kalau Papa lewat di ruangan yang dekat dengan tempat cuci baju itu. 

Tapi aku tidak berbohong, Reo sangat lucu. 

Karena itulah, saat orangtuaku membahas tentang ‘memelihara’ Reo di perusahaan Papa, kami selalu memasang hashtag di grup keluarga kami. 

 #SaveReo

Kakakku kuliah sambil magang, pagi-pagi ke kantornya jam delapan dan pulang ke rumah jam delapan atau sembilan (tanpa pulang rumah terlebih dahulu). Itupun waktunya udah kepepet pakai banget. Jadwal malam kuliah kadang bisa sampai jam sepuluh, waktunya paling sibuk diantara kami.
Sedangkan aku dan Pisces berangkat sekolah pukul tujuh, pulang sekolah pukul tiga atau empat (kalau 
 pemantapan) lalu setelah itu santai.

Nah, Papa sudah berulang kali mengingatkan jadwal makan dan lain-lain Reo, dan Papa bilang kami nggak bakal bisa handle makan pagi, siang, dan malamnya. Yah, memang sih. Tapi kami coba yakinin Papa, kalau kami bisa ngatur. Scorpio pulang sekolah jam satu, yah, kami memberikan dia kepercayaan untuk mengurus Reo siang-siang. Sisanya kami deh.

Papa hanya mengiyakan, meski aku tahu dalam hati Papa menertawakan kesanggupan agak mustahil yang kami janjikan.

Scorpio itu..., sama kucing saja, dia takut banget. Dia anak Mama yang PALING penakut.

Untunglah Mama sedikit pengertian meskipun ‘katanya’ dia berat hati melakukannya. Mama yang mengurus jadwal makan siangnya pada akhirnya.

Pernah sekali, aku memergoki Mama sedang bermain-main dengannya dan Reo meloncat antusias saking senangnya. Soalnya Mama itu kalau udah ketemu Reo itu yah, Mama kayak kasih gertakan buat Reo dengan memukul tangannya diudara seolah hendak memukulnya. Anehnya, Reo malah membalas Mama dengan gerakan yang sama (menaikan salah satu kaki depannya dan melambai-lambaikan di udara), membuatku dan Taurus yang kebetulan melihatnya senang tak karuan.

Mamaku itu sedikit tsundere.

Jadi saat itu aku dan Pisces pergi ke rumah family-ku yang rumahnya hanya selisih tiga rumah, setelah mendapat pesan dari Mama lewat grup keluarga kami.

Mama: Sini ke rumah kuku (panggilan buat salah satu family kami)

Me: Knapa, ma?

Mama: Ada poppia (Nama makanan yang aku tidak tahu bagaimana mengartikannya ke bahasa Indonesia)

Pisces-lah yang lari dengan semangat empatlima menuruni tangga setelah memberi Reo makan. Aku sampai terkaget-kaget.

Jadi setelah sampai di rumah Family kami, saat baru sampai pintu, aku dengan jelas mendengar suara Mama dan Family-ku berbincang-bincang.

“Tapi anjingnya pintar, lho. Dia BAB dan BAK sudah di area luar, bukan keramik.”

Begitu kami masuk ke dalam, Mama menyuruh kami mengambil piring dan memakan makanan yang tersedia diatas meja. Saat sedang makan, Mama kembali berbincang-bincang.

“Itu bau anjingnya bikin seisi rumah bau semua.”

Aku menatap Mama dengan tatapan datar. Kata Pisces, tatapanku itu terkesan seperti tengah mengatakan, ‘Ma. Mama kok gitu sih?’

Tapi sebenarnya, saat itu aku sedang berpikir, ini termaksud nusuk dari belakang nggak sih?

Sebulan setelah memelihara Reo, aku mendapat giliran untuk pulang ke kampung halamanku. Aku ingat persis bagaimana saudari-saudariku mengolok-ngolokku dan menakut-nakutiku dengan mengatakan, “Nanti pulang kamu udah nggak dikenal.” dan semacamnya.

Sebenarnya, saat itu, bukan itu yang kutakutkan. Ya memang, aku takut kangen dengan Reo saat disana nanti. Tapi hal yang paling kutakutkan sebenarnya bukanlah itu.

“Nanti kalau aku pulang...,” Aku menunjuk kursi merah yang tingginya kira-kira hampir tujuhpuluh centi. “Tinggi Reo segitu, gimana?”

KRIK KRIK, para saudariku memasang tampang sengak seperti tengah mencemoohku dalam tatapan itu.

‘Memangnya kau pergi berapa tahun, huh?’

***
Persediaan tulisan untuk kenangan ini telah habis dipublishkan di blog ini. Mungkin akan dibuat kembali lain kali. Untuk sedikit informasi, Reo masih disini bersama kami. Tapi tetap saja saya punya firasat Ayah bakal bawa Reo pergi suatu hari nanti. Karena banyak family kami yang minta-minta Reo. 

Ah, kenangan. 

Salam, CH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar