Aku masih ingat persis saat kakakku—Virgo dengan
antusiasnya menceritakan tentang rencana kami saat memelihara peliharaan baru
yang akan datang nanti. Tepatnya 19 Oktober lalu, anjing milik teman kakakku
telah melahirkan sebelas anak anjing keturunan setengah golden dan entah jenis
anjing jantan apa.
Teman kakakku menawarkan satu anak anjing dan
kakakku mengatakan bahwa dia ingin yang berwarna coklat. Setelah dikirim foto,
kami pun melihat sosok calon anjing baru yang akan menemani kami nanti.
Anjing kecil itu tiduran terlungkup dengan seekor
anjing kecil berwarna putih-hitam yang menurutku mirip dengan panda. Kata
kakakku, anjing hitam-putih itu akan diberikan kepada sepupuku—Alexson yang
juga ditawarkan oleh temannya.
Kami berdiskusi panjang lebar untuk pemberian nama
untuk anjing kecil itu. Adik keempatku—Taurus tidak menginginkan nama anjing
itu memiliki nama kejepang-jepangan, sebab kakakku, aku dan adik ketigaku—Pisces
adalah penyuka anime dan hal-hal yang berbau Jepang. Dan adik kelimaku—Scorpio
hanya menyetujui saran kami karena dia juga menyukai anime yang sering
ditayangkan pagi-pagi disalah satu stasiun TV swasta.
Akhirnya, diputuskanlah bahwa namanya adalah Reo
dari Oreo. Aku tidak mengerti, mengapa harus Oreo? Oreo seharusnya diberikan
kepada anjing hitam-putih itu, kan?
Menunggu sekitar dua minggu, akhirnya anjing kecil
itu berusia sebulan dan datang tepat sehari sebelum aku akan foto kelas untuk
Year book (karena aku sudah kelas tiga SMA).
First Impression-ku saat melihat REO adalah...,
“Kok muka-nya melas gini?”
Tidak ada kardus mie instan bekas, semuanya habis
dipakai untuk mengemas barang-barang kiriman ke luar kota, jadi kami
menggunakan kota sepatu milik Papa. Papa yang kebetulan saat itu sedang berada di
Pekan Baru, tidak tahu nasib kotak sepatunya.
Aku yang terus merengek-rengek mengatakan Reo
memiliki wajah yang memelas, benar-benar mendapat jawaban dari
saudari-saudariku. Padahal, biasanya omonganku selalu dikacangin dan dijadiin
angin lalu.
Aku sangat ingat bagaimana keadaan Reo saat pertama
kali dia melihat kami dan Alexson yang sedang menggendong anjing hitam-putih
yang bahkan belum diberi nama itu. Anjing hitam-putih itu tampak cuek dan
nyaman digendongan pemilik barunya, kami menyimpulkan mungkin karena dia
digendong oleh lelaki (FYI, anjing hitam-putih itu adalah anjing betina).
Sementara Reo..., gemetaran hebat dan tidak mau
berada di dekat-dekat kami berlima saudari yang menunggunya mendekati kami
dengan antusias. Nyaris setengah jam, ternyata dia hanya berminat mendekati
kakakku. Alexson pulang sekitar jam sebelas, yang mana halnya dia berada
dirumah kami sekitar dua jam tanpa sadar terus memperhatikan anjing barunya.
Kami membawa Reo ke loteng, saat itulah kami membuka
pintu kamar Mama. “Itu anjingnya?” Mama kami melihat dari dalam kamar saat kami
membuka pintunya dan memamerkan Reo dari luar pintu (kami tidak berani masuk,
sebab Mama dan Papa menentang kami memelihara Reo). “Lucu sekali, anjingnya.”
Tapi aku tidak bercanda, dia memang lucu meskipun
tiba-tiba kami berlima memekik histeris saat dia tiba-tiba saja (maaf) BAB di
depan pintu kamarku dan Pisces. Aku yang saat itu panik langsung menarik
pijakan kaki berwarna biru dengan buru-buru. Dan dia juga tak lupa meninggalkan
air seni-nya hampir disemua sudut ruangan.
Saat dia sudah tidur, dia akan terbangun kembali dan
menangis (menangis dalam artian lain), habis bermimpi buruk karena belum bisa beradaptasi dengan lingkungan
barunya. Karena itulah, bahkan sampai jam satu, kami sama sekali belum tidur.
Tapi rupanya kakakku sedikit pengertian, dia
mengingat bahwa besok pagi-pagi aku harus bangun dan sampai disekolah sebelum
jam enam. Aku segera kembali ke kamar dengan perasaan berbunga-bunga, karena
sedaritadi aku memang mengantuk. Kusetel alarm jam 04.30 dan tertidur lelap.
Pagi-paginya, alarm itu berbunyi, namun tanpa ragu
ku matikan dan kulanjutkan tidurku. Aku adalah tipical manusia yang membuat
lima alarm yang berselisih waktu lima menit, takut nyesal dan karena aku
nekannya suka nggak nyadar.
Pisces bahkan sempat membangunkanku dan mengomel,
tapi tak kupedulikan dan kulanjutkan kembali tidur yang enak itu. Sampai
akhirnya...,
“Kaing, kaing.”
Mataku terbuka secara otomatis, dan aku langsung
berjalan menuju pintu. Kudengar Pisces sempat berdecak tak pantas. Dia berbicara
dalam tidurnya, mungkin.
“Dibangunin alarm malah nggak bisa, dibangunin
anjing baru bisa, ckck.” Kira-kira seperti itu.
Aku bersiap-siap meski kerepotan harus mengurus Reo
di waktu bersamaan. Aku memanaskan susu, menaruhnya dipiring dan membiarkan Reo
meminumnya, mengajaknya keluar rumah meski aku tahu bahwa dia akan kedinginan,
dan mengajaknya bermain sampai aku lupa waktu.
Jadwal makan pagi sebelum pemotretan seharusnya
lebih cepat, tapi kulewatkan begitu saja.
Akhirnya aku terlambat.
***
Sengaja di post di Blog, agar kenangan tidak hilang selamanya dalam ingatan, agar semuanya tahu betapa antusiasnya kami berlima. Saya menulis kenangan ini tanggal 9 Februari 2016 pukul 00:35.
Nama kami dirahasiakan, meskipun kalian tahu namaku, haha.
Salam saya, C.H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar