Minggu, 24 April 2016

Little Magacal Piya

Cerita ini bergenre Fantasy dengan sedikit bumbu minor romance yang telah dipublishkan secara umum di wattpad. Keadaan terakhir saat aku melihatnya adalah viewersnya sudah mencapai 201K, votesnya sudah mencapai 17.9K dan komentarnya mencapai 2.8K.

Cerita ini mengisahkan tentang fenomena di bumi yang 'menelan' manusia dan membuat mereka menghilang. Di setting cerita itu, banyak manusia yang menghilang tiba-tiba tanpa bisa diprediksikan kapan dan siapa. Cerita ini berpusat pada Tsuyirika Piyorin di Tokyo, Jepang. Gadis yang berumur tigabelas tahun ini harus bisa menelan kepahitan dan sisa-sisa hidupnya bersama dengan Ibu Tirinya yang memperlakukannya dengan tidak manusiawi. Ah, agak alay sih sebenarnya kata-kataku.

Langsung ke sinopsisnya saja, yang saya tulis di wattpad, yah.

Baru saja, aku harus menghadapi fakta tentang perlakuan ibu tiriku yang semakin leluasa ketika ayahku tidak ada di rumah. Sekarang, aku harus menghadapi fakta baru dan meyakini bahwa aku berada di dunia lain dan menjadi seorang penyihir di dunia itu.
Baru saja aku bernafas lega karena sudah melepaskan hidupku sebagai manusia. Namun lagi-lagi aku dihadapi fakta baru bahwa ternyata aku adalah penyihir yang diincar oleh sebuah kelompok yang menjadi musuh penyihir di sana.

[Tsuyirika Piyorin (Piya)]

Di baca yah kalau tertarik, search aku di wattpad atas nama username Prythalize.
Link Profile :  https://www.wattpad.com/user/PrythaLize
Link Cerita : https://www.wattpad.com/story/41809141-little-magacal-piya

P/S: Diharuskan mendaftar terlebih dahulu :)

Salam, CH

Sabtu, 23 April 2016

New Family Member (2)



Seminggu setelah kami memelihara Reo, Mama bilang kalau ‘satu ruangan bau Reo semua’ dan bahkan sempat berdiskusi dengan Papa untuk menaruh Reo di tempat lain saja. Ralat, ditempat kerja Papa yang merupakan perusahaan ikan yang disana terdapat banyak anjing untuk menjaga tempat itu dari pencuri darat maupun laut. 

Selaku orangtua baru REO, kami berlima sama sekali tidak mengizinkan. Scorpio yang sebenarnya takut dengan Reo pun bahkan membela, meski dia menangis beberapa kali karena Reo sedang dalam masa ‘gatal pengen gigit’. 

Rumahnya yang terbuat dari kotak sepatu Papa sudah tak terbentuk. Keset kaki biru yang pernah kureferensikan menjadi korbannya. Oh, dan pakaian-pakaian yang tergantung dibesi tangga (yang rendah sampai-sampai membuatnya bebas menggigit). Reo juga dengan polosnya sembarangan membuang kebutuhannya itu, membuat tissue yang selalu penuh di rumah menjadi habis. Ya, habis

Saat itulah Mama mengungkapkan rasa tidak sukanya terhadap Reo. Sebenarnya lebih tepatnya kita mengatakan rasa distrubing-nya, karena Reo tidak pernah mengganggu Mama. Sedangkan Papa hanya menengok-nya saat malam saja. Itupun kadang-kadang saja kalau Papa lewat di ruangan yang dekat dengan tempat cuci baju itu. 

Tapi aku tidak berbohong, Reo sangat lucu. 

Karena itulah, saat orangtuaku membahas tentang ‘memelihara’ Reo di perusahaan Papa, kami selalu memasang hashtag di grup keluarga kami. 

 #SaveReo

Kakakku kuliah sambil magang, pagi-pagi ke kantornya jam delapan dan pulang ke rumah jam delapan atau sembilan (tanpa pulang rumah terlebih dahulu). Itupun waktunya udah kepepet pakai banget. Jadwal malam kuliah kadang bisa sampai jam sepuluh, waktunya paling sibuk diantara kami.
Sedangkan aku dan Pisces berangkat sekolah pukul tujuh, pulang sekolah pukul tiga atau empat (kalau 
 pemantapan) lalu setelah itu santai.

Nah, Papa sudah berulang kali mengingatkan jadwal makan dan lain-lain Reo, dan Papa bilang kami nggak bakal bisa handle makan pagi, siang, dan malamnya. Yah, memang sih. Tapi kami coba yakinin Papa, kalau kami bisa ngatur. Scorpio pulang sekolah jam satu, yah, kami memberikan dia kepercayaan untuk mengurus Reo siang-siang. Sisanya kami deh.

Papa hanya mengiyakan, meski aku tahu dalam hati Papa menertawakan kesanggupan agak mustahil yang kami janjikan.

Scorpio itu..., sama kucing saja, dia takut banget. Dia anak Mama yang PALING penakut.

Untunglah Mama sedikit pengertian meskipun ‘katanya’ dia berat hati melakukannya. Mama yang mengurus jadwal makan siangnya pada akhirnya.

Pernah sekali, aku memergoki Mama sedang bermain-main dengannya dan Reo meloncat antusias saking senangnya. Soalnya Mama itu kalau udah ketemu Reo itu yah, Mama kayak kasih gertakan buat Reo dengan memukul tangannya diudara seolah hendak memukulnya. Anehnya, Reo malah membalas Mama dengan gerakan yang sama (menaikan salah satu kaki depannya dan melambai-lambaikan di udara), membuatku dan Taurus yang kebetulan melihatnya senang tak karuan.

Mamaku itu sedikit tsundere.

Jadi saat itu aku dan Pisces pergi ke rumah family-ku yang rumahnya hanya selisih tiga rumah, setelah mendapat pesan dari Mama lewat grup keluarga kami.

Mama: Sini ke rumah kuku (panggilan buat salah satu family kami)

Me: Knapa, ma?

Mama: Ada poppia (Nama makanan yang aku tidak tahu bagaimana mengartikannya ke bahasa Indonesia)

Pisces-lah yang lari dengan semangat empatlima menuruni tangga setelah memberi Reo makan. Aku sampai terkaget-kaget.

Jadi setelah sampai di rumah Family kami, saat baru sampai pintu, aku dengan jelas mendengar suara Mama dan Family-ku berbincang-bincang.

“Tapi anjingnya pintar, lho. Dia BAB dan BAK sudah di area luar, bukan keramik.”

Begitu kami masuk ke dalam, Mama menyuruh kami mengambil piring dan memakan makanan yang tersedia diatas meja. Saat sedang makan, Mama kembali berbincang-bincang.

“Itu bau anjingnya bikin seisi rumah bau semua.”

Aku menatap Mama dengan tatapan datar. Kata Pisces, tatapanku itu terkesan seperti tengah mengatakan, ‘Ma. Mama kok gitu sih?’

Tapi sebenarnya, saat itu aku sedang berpikir, ini termaksud nusuk dari belakang nggak sih?

Sebulan setelah memelihara Reo, aku mendapat giliran untuk pulang ke kampung halamanku. Aku ingat persis bagaimana saudari-saudariku mengolok-ngolokku dan menakut-nakutiku dengan mengatakan, “Nanti pulang kamu udah nggak dikenal.” dan semacamnya.

Sebenarnya, saat itu, bukan itu yang kutakutkan. Ya memang, aku takut kangen dengan Reo saat disana nanti. Tapi hal yang paling kutakutkan sebenarnya bukanlah itu.

“Nanti kalau aku pulang...,” Aku menunjuk kursi merah yang tingginya kira-kira hampir tujuhpuluh centi. “Tinggi Reo segitu, gimana?”

KRIK KRIK, para saudariku memasang tampang sengak seperti tengah mencemoohku dalam tatapan itu.

‘Memangnya kau pergi berapa tahun, huh?’

***
Persediaan tulisan untuk kenangan ini telah habis dipublishkan di blog ini. Mungkin akan dibuat kembali lain kali. Untuk sedikit informasi, Reo masih disini bersama kami. Tapi tetap saja saya punya firasat Ayah bakal bawa Reo pergi suatu hari nanti. Karena banyak family kami yang minta-minta Reo. 

Ah, kenangan. 

Salam, CH

New Family Member



Aku masih ingat persis saat kakakku—Virgo dengan antusiasnya menceritakan tentang rencana kami saat memelihara peliharaan baru yang akan datang nanti. Tepatnya 19 Oktober lalu, anjing milik teman kakakku telah melahirkan sebelas anak anjing keturunan setengah golden dan entah jenis anjing jantan apa. 

Teman kakakku menawarkan satu anak anjing dan kakakku mengatakan bahwa dia ingin yang berwarna coklat. Setelah dikirim foto, kami pun melihat sosok calon anjing baru yang akan menemani kami nanti.
Anjing kecil itu tiduran terlungkup dengan seekor anjing kecil berwarna putih-hitam yang menurutku mirip dengan panda. Kata kakakku, anjing hitam-putih itu akan diberikan kepada sepupuku—Alexson yang juga ditawarkan oleh temannya. 

Kami berdiskusi panjang lebar untuk pemberian nama untuk anjing kecil itu. Adik keempatku—Taurus tidak menginginkan nama anjing itu memiliki nama kejepang-jepangan, sebab kakakku, aku dan adik ketigaku—Pisces adalah penyuka anime dan hal-hal yang berbau Jepang. Dan adik kelimaku—Scorpio hanya menyetujui saran kami karena dia juga menyukai anime yang sering ditayangkan pagi-pagi disalah satu stasiun TV swasta.

Akhirnya, diputuskanlah bahwa namanya adalah Reo dari Oreo. Aku tidak mengerti, mengapa harus Oreo? Oreo seharusnya diberikan kepada anjing hitam-putih itu, kan? 

Menunggu sekitar dua minggu, akhirnya anjing kecil itu berusia sebulan dan datang tepat sehari sebelum aku akan foto kelas untuk Year book (karena aku sudah kelas tiga SMA).

First Impression-ku saat melihat REO adalah...,
Kok muka-nya melas gini?”

Tidak ada kardus mie instan bekas, semuanya habis dipakai untuk mengemas barang-barang kiriman ke luar kota, jadi kami menggunakan kota sepatu milik Papa. Papa yang kebetulan saat itu sedang berada di Pekan Baru, tidak tahu nasib kotak sepatunya. 

Aku yang terus merengek-rengek mengatakan Reo memiliki wajah yang memelas, benar-benar mendapat jawaban dari saudari-saudariku. Padahal, biasanya omonganku selalu dikacangin dan dijadiin angin lalu.
Aku sangat ingat bagaimana keadaan Reo saat pertama kali dia melihat kami dan Alexson yang sedang menggendong anjing hitam-putih yang bahkan belum diberi nama itu. Anjing hitam-putih itu tampak cuek dan nyaman digendongan pemilik barunya, kami menyimpulkan mungkin karena dia digendong oleh lelaki (FYI, anjing hitam-putih itu adalah anjing betina). 

Sementara Reo..., gemetaran hebat dan tidak mau berada di dekat-dekat kami berlima saudari yang menunggunya mendekati kami dengan antusias. Nyaris setengah jam, ternyata dia hanya berminat mendekati kakakku. Alexson pulang sekitar jam sebelas, yang mana halnya dia berada dirumah kami sekitar dua jam tanpa sadar terus memperhatikan anjing barunya. 

Kami membawa Reo ke loteng, saat itulah kami membuka pintu kamar Mama. “Itu anjingnya?” Mama kami melihat dari dalam kamar saat kami membuka pintunya dan memamerkan Reo dari luar pintu (kami tidak berani masuk, sebab Mama dan Papa menentang kami memelihara Reo). “Lucu sekali, anjingnya.”
Tapi aku tidak bercanda, dia memang lucu meskipun tiba-tiba kami berlima memekik histeris saat dia tiba-tiba saja (maaf) BAB di depan pintu kamarku dan Pisces. Aku yang saat itu panik langsung menarik pijakan kaki berwarna biru dengan buru-buru. Dan dia juga tak lupa meninggalkan air seni-nya hampir disemua sudut ruangan. 

Saat dia sudah tidur, dia akan terbangun kembali dan menangis (menangis dalam artian lain), habis bermimpi buruk karena belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Karena itulah, bahkan sampai jam satu, kami sama sekali belum tidur. 

Tapi rupanya kakakku sedikit pengertian, dia mengingat bahwa besok pagi-pagi aku harus bangun dan sampai disekolah sebelum jam enam. Aku segera kembali ke kamar dengan perasaan berbunga-bunga, karena sedaritadi aku memang mengantuk. Kusetel alarm jam 04.30 dan tertidur lelap. 

Pagi-paginya, alarm itu berbunyi, namun tanpa ragu ku matikan dan kulanjutkan tidurku. Aku adalah tipical manusia yang membuat lima alarm yang berselisih waktu lima menit, takut nyesal dan karena aku nekannya suka nggak nyadar. 

Pisces bahkan sempat membangunkanku dan mengomel, tapi tak kupedulikan dan kulanjutkan kembali tidur yang enak itu. Sampai akhirnya...,
Kaing, kaing.” 

Mataku terbuka secara otomatis, dan aku langsung berjalan menuju pintu. Kudengar Pisces sempat berdecak tak pantas. Dia berbicara dalam tidurnya, mungkin.
“Dibangunin alarm malah nggak bisa, dibangunin anjing baru bisa, ckck.” Kira-kira seperti itu.

Aku bersiap-siap meski kerepotan harus mengurus Reo di waktu bersamaan. Aku memanaskan susu, menaruhnya dipiring dan membiarkan Reo meminumnya, mengajaknya keluar rumah meski aku tahu bahwa dia akan kedinginan, dan mengajaknya bermain sampai aku lupa waktu. 

Jadwal makan pagi sebelum pemotretan seharusnya lebih cepat, tapi kulewatkan begitu saja.

Akhirnya aku terlambat.

***
Sengaja di post di Blog, agar kenangan tidak hilang selamanya dalam ingatan, agar semuanya tahu betapa antusiasnya kami berlima. Saya menulis kenangan ini tanggal 9 Februari 2016 pukul 00:35. 
Nama kami dirahasiakan, meskipun kalian tahu namaku, haha. 

Salam saya, C.H