Seminggu setelah kami memelihara Reo, Mama bilang
kalau ‘satu ruangan bau Reo semua’ dan bahkan sempat berdiskusi dengan Papa
untuk menaruh Reo di tempat lain saja. Ralat, ditempat kerja Papa yang
merupakan perusahaan ikan yang disana terdapat banyak anjing untuk menjaga
tempat itu dari pencuri darat maupun laut.
Selaku orangtua baru REO, kami berlima sama sekali
tidak mengizinkan. Scorpio yang sebenarnya takut dengan Reo pun bahkan membela,
meski dia menangis beberapa kali karena Reo sedang dalam masa ‘gatal pengen
gigit’.
Rumahnya yang terbuat dari kotak sepatu Papa sudah
tak terbentuk. Keset kaki biru yang pernah kureferensikan menjadi korbannya.
Oh, dan pakaian-pakaian yang tergantung dibesi tangga (yang rendah
sampai-sampai membuatnya bebas menggigit). Reo juga dengan polosnya sembarangan
membuang kebutuhannya itu, membuat tissue yang selalu penuh di rumah menjadi
habis. Ya, habis.
Saat itulah Mama mengungkapkan rasa tidak sukanya
terhadap Reo. Sebenarnya lebih tepatnya kita mengatakan rasa distrubing-nya,
karena Reo tidak pernah mengganggu Mama. Sedangkan Papa hanya menengok-nya saat
malam saja. Itupun kadang-kadang saja kalau Papa lewat di ruangan yang dekat
dengan tempat cuci baju itu.
Tapi aku tidak berbohong, Reo sangat lucu.
Karena itulah, saat orangtuaku membahas tentang
‘memelihara’ Reo di perusahaan Papa, kami selalu memasang hashtag di grup
keluarga kami.
#SaveReo
Kakakku kuliah sambil magang, pagi-pagi ke kantornya
jam delapan dan pulang ke rumah jam delapan atau sembilan (tanpa pulang rumah
terlebih dahulu). Itupun waktunya udah kepepet pakai banget. Jadwal malam
kuliah kadang bisa sampai jam sepuluh, waktunya paling sibuk diantara kami.
Sedangkan aku dan Pisces berangkat sekolah pukul
tujuh, pulang sekolah pukul tiga atau empat (kalau
pemantapan) lalu setelah itu
santai.
Nah, Papa sudah berulang kali mengingatkan jadwal
makan dan lain-lain Reo, dan Papa bilang kami nggak bakal bisa handle makan
pagi, siang, dan malamnya. Yah, memang sih. Tapi kami coba yakinin Papa, kalau
kami bisa ngatur. Scorpio pulang sekolah jam satu, yah, kami memberikan dia
kepercayaan untuk mengurus Reo siang-siang. Sisanya kami deh.
Papa hanya mengiyakan, meski aku tahu dalam hati
Papa menertawakan kesanggupan agak mustahil yang kami janjikan.
Scorpio itu..., sama kucing saja, dia takut banget.
Dia anak Mama yang PALING penakut.
Untunglah Mama sedikit pengertian meskipun ‘katanya’
dia berat hati melakukannya. Mama yang mengurus jadwal makan siangnya pada
akhirnya.
Pernah sekali, aku memergoki Mama sedang
bermain-main dengannya dan Reo meloncat antusias saking senangnya. Soalnya Mama
itu kalau udah ketemu Reo itu yah, Mama kayak kasih gertakan buat Reo dengan
memukul tangannya diudara seolah hendak memukulnya. Anehnya, Reo malah membalas
Mama dengan gerakan yang sama (menaikan salah satu kaki depannya dan
melambai-lambaikan di udara), membuatku dan Taurus yang kebetulan melihatnya
senang tak karuan.
Mamaku itu sedikit tsundere.
Jadi saat itu aku dan Pisces pergi ke rumah
family-ku yang rumahnya hanya selisih tiga rumah, setelah mendapat pesan dari
Mama lewat grup keluarga kami.
Mama: Sini ke rumah kuku (panggilan buat salah satu
family kami)
Me: Knapa, ma?
Mama: Ada poppia (Nama makanan yang aku tidak tahu
bagaimana mengartikannya ke bahasa Indonesia)
Pisces-lah yang lari dengan semangat empatlima menuruni
tangga setelah memberi Reo makan. Aku sampai terkaget-kaget.
Jadi setelah sampai di rumah Family kami, saat baru
sampai pintu, aku dengan jelas mendengar suara Mama dan Family-ku
berbincang-bincang.
“Tapi anjingnya pintar, lho. Dia BAB dan BAK sudah
di area luar, bukan keramik.”
Begitu kami masuk ke dalam, Mama menyuruh kami
mengambil piring dan memakan makanan yang tersedia diatas meja. Saat sedang
makan, Mama kembali berbincang-bincang.
“Itu bau anjingnya bikin seisi rumah bau semua.”
Aku menatap Mama dengan tatapan datar. Kata Pisces,
tatapanku itu terkesan seperti tengah mengatakan, ‘Ma. Mama kok gitu sih?’
Tapi sebenarnya, saat itu aku sedang berpikir, ini
termaksud nusuk dari belakang nggak sih?
Sebulan
setelah memelihara Reo, aku mendapat giliran untuk pulang ke kampung halamanku.
Aku ingat persis bagaimana saudari-saudariku mengolok-ngolokku dan
menakut-nakutiku dengan mengatakan, “Nanti pulang kamu udah nggak dikenal.” dan
semacamnya.
Sebenarnya, saat itu, bukan itu yang kutakutkan. Ya
memang, aku takut kangen dengan Reo saat disana nanti. Tapi hal yang paling
kutakutkan sebenarnya bukanlah itu.
“Nanti kalau aku pulang...,” Aku menunjuk kursi
merah yang tingginya kira-kira hampir tujuhpuluh centi. “Tinggi Reo segitu,
gimana?”
KRIK KRIK, para saudariku memasang tampang sengak
seperti tengah mencemoohku dalam tatapan itu.
‘Memangnya kau pergi berapa tahun, huh?’
***
Persediaan tulisan untuk kenangan ini telah habis dipublishkan di blog ini. Mungkin akan dibuat kembali lain kali. Untuk sedikit informasi, Reo masih disini bersama kami. Tapi tetap saja saya punya firasat Ayah bakal bawa Reo pergi suatu hari nanti. Karena banyak family kami yang minta-minta Reo.
Ah, kenangan.
Salam, CH